Universitas Mercu Buana

Unggul, Bermutu dan Bermanfaat

RESUME HASIL SEMINAR PEKAN RAYA PSIKOLOGI 2015 Forgiveness: the Key of Freedom

Hari/ Tanggal  : Minggu, 17 Mei 2015
Pukul               : 09.00 – 12.00
Tempat            : Auditorium, Tower lt.7 UMB
Narasumber     : 1. Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja
                             Guru Besar Emeritus (UNPAD, UNISBA, UPI)
                          2. Adang Adha, S.Psi (Konselor)
Moderator       : Dearly, M.Psi


Hasil Seminar:
A. Narasumber I : Prof. DR. Sutardjo A. Wiramihardja (Pukul 09.50)
    Judul                : Pemaafan sebagai Jalan Pembebasan
1.      Seminar ini bertujuan untuk membekali orang-orang, khususnya para peserta seminar mengenai teori-teori memaafkan yang merupakan jalan untuk menuju kebebasan.
2.      Pemaafan dalam pemahaman psikologis lebih ditekankan pada perbuatan memaafkan, yang akan berdampak pada pembebasan.
3.      Memaafkan adalah sebuah totalitas tindakan (overt dan covert) yang disertai dengan pikiran dan perasaan yang dijadikan sebagai dasar penilaian benar/ salah, dan menimbulkan perasaan senang/sedih.
4.      Menurut Plato, yang menjadi dalang dibalik perilaku manusia adalah “psyches”, yang merupakan keseluruhan padu yang meliputi:
a. Kemampuan (kognisi, kecerdasan)
b. Kekuatan (dorongan, motivasi)
c. Pengendalian (emosi)
5.      Menurut Hipocrates bahwa setiap gejala sakit berkaitan dengan otak. Dan suatu kebebasan yang muncul akibat memaafkan akan mewujudkan kesejahteraan mental (mental yang sehat). Memaafkan sama halnya dengan membebaskan tekanan, apabila tekanan dilepaskan maka kondisidan situasi menjadi tenang.


6.      Memaafkan hanya akan menjadi suatu basa basi, keterpaksaan, atau bahkan tidak memiliki arti apabila tidak ada perpaduan dari dimensi berikut:
a.       Hanya perbuatan saja
b.      Hanya didasari pemikiran saja
c.       Hanya didasari rasa senang semata
7.   Objek pemaafan:
      Pemaafan berkaitan dengan
a.       Orang lain, interpersonal, komunitas, dan sosial
b.      Intrapersonal, dalam rangka kaitannya dengan kondisi diri sendiri, dan
c.       Dengan situasi, sistem sosial, dll
8.  Pemaafan interpersonal terjadi ketika seseorang yang merasa diperlakukan tidak adil oleh orang lain, tetapi tidak memiliki lagi emosi negative terhadap orang itu.
9.  Pemaafan sosial terjadi ketika seseorang yang merasa diperlakukan tidak adil oleh sistem sosial, tetapi dapat menghilangkan marahnya dengan berbagai alasan.
10. Pemafaan interpersonal adalah memaafkan diri sendiri atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya sendiri. Di mana memaafkan diri sendiri terjadi karena telah mengetahui apa penyebabnya.
11. Perlakuan tidak adil kadang dirasakan oleh seseorang atau kelompok apabila tidak mengintegrasikan keseluruhan sistem.
12. Manfaan memaafkan :
a.       Manusia adalah makhluk sosial sehingga harus senantiasa menjaga, mengembangkan, dan memanfaatkan kebersamaannya.
b.      Manusia termasuk salah satu spesies makhluk hidup yang memiliki tugas untuk memelihara dan mengembangkan diri.
c.       Memaafkan dapat membangun  asa yang lebih baik di masa depan.
B. Narasumber I : Adang Adha (Pukul 10.50)
    Judul                : Forgiveness: the Key to Freedom
1.      Seminar ini bertujuan untuk membekali orang-orang, khususnya para peserta seminar mengenai memaafkan dengan cara-cara yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Steven Hayes menganalogikan bahwa “saat Anda tidak memaafkan, maka Anda akan merasakan sabetan celurit raksasa. Di seberang celurit ada yang sedang menyakiti Anda. Mereka dapatkan kesakitan Anda dan seperti duri. Celurit ini sedemikian menyakitkan. Kemanapun Anda pergi, celurit mengikuti, dan demikian pula si orang yang menyakiti.”
3.      Berdasarkan analogi di atas, maka cara yang dapat dilakukan untuk memaafkan adalah membiarkan orang yang menyakiti pergi, lalu luka dan bekasnya diobati sampai sembuh. Dalam hal ini, memaafkan butuh proses yang tidak instan.
4.      Memaafkan tergantung pada keluasan hati yang dimiliki oleh setiap orang.
5.      Memaafkan dimulai dengan cara mencintai terlebih dahulu. Mencintai diri sendiri, lingkungan, orang tua dan sebagainya.
6.      Memaafkan tidak membutuhkan objek, tetapi dibutuhkan mengingat situasi konteks secara spesifik. Karena memaafkan adalah urusan antara diri anda dengan kedamaian hati. Apabila kita tidak memaafkan, maka kerugian akan dirasakan oleh diri sendiri.
7.      Memaafkan bukan berarti sekedar memaklumi, melupakan, pembenaran, menenangkan, atau semacam memaafkan palsu dengan menyatakan “saya memaafkanmu”.
8.      Dapat dikatakan bahwa memaafkan merupakan mengingat peristiwa di masa lalu dengan diri sendri atau dengan orang lain, tetapi emosi yang terpicu adalah netral. Dan ukuran netral adalah tergantung pada diri masing-masing individu.
9.      Mencegah lebih baik daripada mengobati, sehingga analogi itu menunjukkan kita lebih baik mencegah untuk tidak berprasangka negative (mengubah persepsi ke arah yang lebih positif) daripada kita terlanjur sakit hati karena menyimpan dendam akibat tidak memaafkan.
10.  Proses memaafkan, dengan teknik yang bermacam-macam dilakukan tergantung individu itu sendiri, diantaranya:
a. Phase I – Membuka kemarahan
b. Phase II – Memutuskan memaafkan
c. Phase III – Melalukan memaafkan

d. Phase IV – Penemuan dan bebas dari penjara emosional 
Share on Google Plus

About Hmf Psikologi

Diterbitkan oleh Kantor Berita The Telegraph Indonesia, Jakarta
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar